Semoga Pak Umar Mau Jadi Presiden
March 29th, 2009 by dariarifuntukdunia
Waktu-waktu ini entah kenapa makin dekat, tepatnya makin sempit. Sehari-hari sekarang makin susah menemukan ruang yang pribadi. Terlalu banyak warna. Di rumah, di tivi, radio, pinggir jalan, warung, sampai wc. Semua tempat itu sudah jadi sarana menggaet massa. Tanpa pandang ruang, sampai tempat paling pribadi dipasangi foto anak muda dengan mata menggoda dan berkata “Pilihlah saya…”, dengan disertai nomor urut yang mengacu jelas pada kata-kata abstrak “makmur” dan “sejahtera”; dua kata sakti yang makin murah dua bulan ini. Alih-alih mau memilih, saya malah menganggapnya nomor togel atau nomor buntut paling jitu, jadi mungkin bisa jadi cepat kaya. Entah apa, tapi rasanya praktek “buang uang” macam ini tidak akan mencerdaskan. Sebaliknya, malah menjadikanpara stake holder terbesar bangsa ini, rakyat kecil dan orang-orang di pelosok kampung, jadi bingung, muak, dan tak acuh.
Melihat hal-hal yang absurd tersebut, tak sengaja saya ingat pembicaraan saya dengan seorang yang bijak bestari. Pembicaraan beberapa bulan lalu, namun masih terngiang sampai sekarang.
***
Jarum panjang di jam itu menunjuk angka enam, tegas, tidak bergeser. Cuma jarum pendeknya yang agak malu-malu, antara menunjuk angka enam dan tujuh. Dengan langkah tergopoh-gopoh saya menuju Mushola yang terletak di dalam fakultas karena saya belum sholat maghrib.
Di Mushola, Pak Umar sedang istirahat, sepertinya baru selesai beres-beres mushola.
“Dari upt Rip?”
“Iya, Pak! Sholat dulu nih…!”
Perpustakaan pusat akrab disebut anak UI dengan nama UPT. Padahal, UPT bukanlah singkatan dari perpustakan pusat, tapi itu singkatan dari Unit Pelayanan Terpadu, dan yang namanya UPT itu di UI banyak, semua bentuk pelayanan di UI itu nama depannya UPT. Tapi, mau bagaimana lagi, konstruksi tiga huruf U,P, dan T telah diyakini sebagai manifestasi dari sebuah bangunan kokoh terpencil di UI; Perpustakaan Pusat.
Sholat selesai, Pak Umar masih terlihat santai di teras mushola. Ketika saya keluar mushola, beliaupun menegur saya.
“Mau kemana, Rip? Nggak nunggu isya? Sini aja udah, nunggu isya aja dulu!”
“Iya Pak! Mau pulang juga tanggung!”
Akhirnya, kebiasaaan seminggu belakangan ini dimulai. Setelah sholat maghrib saya yang terlambat, sambil menunggu isya, saya dan Pak Umar ngobrol-ngobrol masalah macam-macam, biasanya tentang sepakbola. Lantaran sedang musim Piala Eropa, sekarang pembahasan lebih terfokus pada hajatan akbar itu.
“Portugal kalah pak!”
“Ronaldo nggak ada apa-apanya kan?!”
“Payah, padahal mau liat dia ngibrit di lapangan, malah diem aja, dia maennya nggak kayak di M.U Pak!”
“Berarti ini masalah pelatihnya”
Pak Umar tangkas juga meladeni percakapan seputar sepakbola mancanegara begini. Hmm…mungkin Pak Umar ini komentator tarkam di kampungnya.
“Kalo sama Ferguson, Ronaldo maennya lebih enak, karena udah dianggep bapaknya sendiri.”
“Ooooo” saya hanya mengangguk takzim.
Mulai dari sini, komentar berputar sekitar hubungan keluarga yang terlihat di sepakbola. Pak Umar melihat kalau di sepakbola, peran pelatih bisa sebegitu jauhnya terhadap anak asuhannya, terutama di Manchester United (MU). Di MU, Alex Ferguson seperti telah menjadi bapak. Dia melatih anak-anak Manchester sedari muda. Dia pulalah yang memoles kebintangan dari pemain-pemain itu. Bagi siapa saja yang mengikuti petunjuknya, bermain dengan sepenuh hati di lapangan, dia akan sangat menyayanginya di dalam dan di luar lapangan. Dan pemain pun demikian, sebagai balasan atas kasih sayang dan perhatian Ferguson di dalam dan di luar lapangan, mereka akan sangat menghormatinya. Ada hubungan indah yang terbentuk dari mekanisme saling memberi dan menerima ini. Dan Pak Umar, sangat tahu hal ini, mungkin karena dia juga seorang bapak yang hampir seangkatan dengan Ferguson.
“Sepakbola di Indonesia nggak bisa maju…karena apa-apa di Indonesia mahal!”
“Oh, begitu pak?”
“lah, iya! Sekarang kalau kita mau maen bola, mesti nyewa, nyewanya mahal. Belum sepatunya, bolanya, kostum. Sekarang ‘kan apa-apa mahal, gemana mau maju!”
Wah, Pak Umar sekarang dapat poin pentingnya. Sepakbola kita morit-marit sekarang kurang lebihnya ya karena ini, akses yang terbatas terhadap sarana dan prasarana. Lahan makin sempit, kalaupun ada, sudah jatuh ke tangan-tangan pengusaha yang sedang giat-giatnya mendirikan fasilitas berbayar baru bernama arena futsal dan semacamnya. Alih-alih membudidayakan olahraga tersebut, malah mematikan inisiatif warga untuk bermain sepakbola. Lahan yang luas dipotong kecil-kecil, menjadi banyak lapangan kecil. Lapangan-lapangan kecil itu kemudian disewakan pada mereka yang bermodal. Terlihat’kan, bagaimana industri tersebut telah merebut kesempatan banyak orang?! Mungkin saja di suatu tempat di sana ada seorang Del Piero muda di bawah jembatan, sedang menggiring bola plastik melewati lawannya. Yang mungkin tidak terpantau umum karena dia tidak bisa ikut main di Planet Futsal, dan dia juga mungkin tidak punya uang yang cukup untuk bersekolah di sebuah sekolah sepakbola. Mungkin.
Namun, demi melihat gelagat Pak Umar yang menarik nafas panjang, saya tahu bahwa pembicaraan ini akan melebar.
“Kalo menurut saya, semua yang untuk umum itu harus digratiskan, supaya semua orang bisa make!”
“Betul Pak!”
“’kan ini untuk bangsa juga!”
“Wah, setuju Pak! Kalo apa-apa mahal gimana kita mau maju!”
“Sekarang sekolah mahal, apa-apa mahal, kalo ada anak yang pinter, terus sekolah di luar negeri, mana mau balik lagi ke sini?! Mendingan dia kerja di luar aja, gajinya lebih gede, lebih diperhatikan juga sama bosnya!”
Betul! Sekarang Pak Umar sudah masuk ke ranah publik secara keseluruhan. Masalah sosial seperti ini yang jadi polemik para sarjana kita. Tapi, Pak Umar belum selesai.
“Sekarang sekolah udah mahal, jadi yang bisa sekolah tinggi, terus jadi bos, ya mesti nyari duit sebanyak-banyaknya buat ngebahagiain orang tua mereka. Mereka udah nggak sempet lagi mikirin bangsa. Yang penting, mereka itu harus bisa membalas semua pengorbanan orang tua mereka yang sudah menyekolahkan mereka sampai berhasil. Itu aja!”
Dengan logat daerah Kebumen yang bercampur dengan analisis dunia global, membuat pembicaraan Pak Umar terasa gegar budaya yang kental. Logat daerahnya berkelindan dengan kaidah tata bahasa Indonesia yang lumayan mumpuni, meskipun kadang terselip juga ‘nuansa’ daerah yang terdengar dari ucapannya. Mungkin ini adalah hasil dari perjalanan mentalnya selama puluhan tahun bekerja di bawah atap intelektualitas “tiga” fakultas besar di UI; Fakultas Sastra di Rawamangun, Fakultas Sastra di Depok, dan sekarang Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) di Depok. Percakapan pun berlanjut.
“’Kan kalo pemerintah mau ngasih gratis fasilitas untuk publik itu, nanti ‘kan semua orang yang pada sekolah, maen bola, pasti bakal merasa berhutang pada bangsa. Kalo udah begini, nantinya orang-orang itu pasti mau berbakti buat membangun bangsa juga. Kalo sekarang ‘kan enggak.”
Ada benarnya juga apa kata Pak Umar ini. Jika sekarang pemerintah seperti tidak memperhatikan nasib rakyatnya, bukan salah rakyat yang tidak mengerti apa itu konsep ‘bela negara’. Masalahnya, rakyat sekarang tidak merasakan bahwa negara membela mereka. Pemerintah, yang menjadi representasi dari negara, terlihat hanya sibuk dengan dirinya sendiri. Pemerintah yang seharusnya menjadi sebuah kendaraan untuk menyejahterakan rakyat yang berdiam di dalam sebuah negara, malah sebaliknya, menjadi musuh rakyat nomor satu. Negara ini bisa jadi negara yang autis, bukan terhadap negara lain, tapi terhadap rakyatnya sendiri. Terbayangkah kawan, jika ada seorang yang autis, kepala dan tangannya sering bertindak tidak sejalan. Kepala ingin ke mana, tangan maunya ke mana. Mungkin ini akan jadi sebuah varietas penyakit autis baru. Buka mata, ini nyata, Cuma di Indonesia.
“Ini Cuma pendapat saya, orang nggak sekolah!”
Gaya Pak Umar merendah waktu mengucapkan kalimat penutupnya tadi. Tapi dari caranya berbicara itu, saya jadi sadar bahwa masalah bangsa ini telah menjadi sebuah isu yang jika di lihat dari kaca mata awam juga sudah sangat jelas. Dengan keberpihakan pemerintah yang lebih memilih membela kepentingan asing, tidak bisanya kita mandiri bahkan hanya untuk memenuhi kebutuhan pangan dalam negerinya sendiri ini, dan kebijakan yang jauh dari harapan rakyat, membuat seorang awam seperti Pak Umar yang seorang marbot mushola, bukan politikus, sudah bisa melihat dan menjelaskan secara gamblang dan komprehensif bagaimana seharusnya pemerintahan ini dijalankan.
Mungkin seorang seperti Pak Umar punya visi pemerintahan yang lebih jelas dibanding orang yang sekarang jadi orang nomor satu di negeri ini. Saya Cuma membayangkan, kalau saja Pak Umar yang jadi presiden saat ini, SBY berganti jadi seorang marbot mushola di FIB ini, Jusufkalla adalah seorang pedagang es teh di kantin, dan para menterinya seperti Abu Rizal Bakrie adalah seorang tukang potong rumput. Mungkin saat ini saya akan duduk di Mushola sambil ngobrol tentang sepakbola dengan SBY, lalu Jusuf Kalla datang ke mushola untuk bersama-sama kami mengerjakan kewajiban sholat Isya jam tujuh nanti. Abu Rizal Bakrie baru pulang dari kerja sambilannya ngojek di depan fakultas dan harus masbuk karena kita sudah mulai memasuki sholat raka’at kedua. Selesai sholat, sebelumsaya pulang dan setelah SBY membereskan pekerjaannya sebagai seorang marbot mushola yang baik, kita ngobrol sebentar tentang kondisi Indonesia yang sudah sejajar dengan Malaysia dan Singapura. Ekonomi kita sudah maju pesat dan menjadi barometer perekonomian Asia Tenggara. Pendidikan kita telah maju dan berhasil memenuhi target kelulusan siswa SMA dengan rata-rata nilai 8,75 karena semua siswanya sekarang berangkat sekolah demi tujuan keilmuan yang murni untuk memajukan peradaban bangsanya. Anak-anak pergi sekolah tanpa harus berpikir tentang masalah biaya. Itu semua karena biaya sekolah telah digratiskan. Dan bagaimana olahraga kita? Tim nasional sepakbola kita telah berhasil mengukir prestasi sebagai pemenang Sea Games dan Asian Games. Juga lolos mengesankan dari babak kualifikasi piala dunia zona Asia Tenggara dengan predikat juara grup, setelah mematahkan perlawanan Malaysia 4-0 dan Thailand 5-2. Di Piala Asia, kekuatan sepakbola kita hanya bisa ditandingi oleh Jepang yang membuat kita harus menjalani babak perpanjangan waktu 2 X 15 menit untuk menang 1-0 di semifinal. Dan Australia yang membuat tim nasional kita harus melewati babak tos-tosanmenang adu penalti 6-4 di babak final. Pada saat itu, Indonesia sudah menjadi sebuah negara yang berdaulat atas tanah, air, dan udaranya. Kapal laut dari bangsa lain seperti Jepang akan merasa sangat aman ketika mereka harus singgah di perairan Indonesia. Posisi kita di PBB sangat kuat dengan terpilihnya seorang anak bangsa Indonesia menjadi sekjen PBB untuk lima tahun ke depan.
“Wah, Indonesia sudah maju ternyata!”
Namun, azan di sebuah mushola telah berkumandang pada kadarnya. Lantunan itu berseru-seru memanggil dan menyeru segala umat untuk menuju kemenangan atas dunianya dan dirinya masing-masing. Demi mendengar itu, lamunan saya buyar.
“Ayo Rip, saya tak azan dulu!”
“Silahkan pak, saya wudhu dulu”
Dengan cepat saya sudah kembali ke dunia nyata. Tempat di mana semua yang ada kebalikan dari dunia lamunan saya tadi. Di hadapan saya masih Pak Umar, bukan SBY. Dan Jusuf Kalla tidak menjadi seorang penjual es di kantin. Abu Rizal Bakrie juga tidak datang ke mushola karena dia bukan seorang pemotong rumput yang bekerja sambilan jadi tukang ojek di depan fakultas.
Sambil beranjak dari duduknya dan menuju mimbar, Pak Umar masih sempat menegur dan bertanya.
“Kroasia Turki nanti malem gimana Rip?”
“Turki deh Pak!”
***
Bagaimana nasib bangsaku dua bulan lagi, tidak ada yang tahu. Hanya Dzat Yang Maha Tinggi yang tahu. Dia-lah yang berhak dan yang paling adil dalam menentukan nasib bangsa ini atas usaha yang sudah dilakukan. Jika kita lihat usahanya masih setengah-setengah, siapalah kita berani mengharap kemakmuran dan kesejahteraan.
Tiba-tiba saya menengadah ke atas dan berdoa; semoga usaha kami yang terlihat setengah-setengah ini tidak mengurangi rahmat-Mu atas tanah, air, dan udara.
Biarlah saya jadi orang yang tidak tahu diri di hadapan-Nya, daripada harus jadi orang yang tidak tahu diri di tivi, pinggir jalan, bahkan WC.
Astaghfirullah hal adzim…
Wahai Bapak Umar, Sudikah Kiranya Bapak Menjadi Presiden?
Depok, Maret 2009
Catatan:
- Tarkam / antar kampung: adalah sebuah kompetisi sepakbola amatir yang biasa dilakukan darikampung ke kampung.
- Marbot : penjaga mushola atau masjid