Semoga Pak Umar Mau Jadi Presiden

March 29th, 2009 by dariarifuntukdunia

Waktu-waktu ini entah kenapa makin dekat, tepatnya makin sempit. Sehari-hari sekarang makin susah menemukan ruang yang pribadi. Terlalu banyak warna. Di rumah, di tivi, radio, pinggir jalan, warung, sampai wc. Semua tempat itu sudah jadi sarana menggaet massa. Tanpa pandang ruang, sampai tempat paling pribadi dipasangi foto anak muda dengan mata menggoda dan berkata “Pilihlah saya…”, dengan disertai nomor urut yang mengacu jelas pada kata-kata abstrak “makmur” dan “sejahtera”; dua kata sakti yang makin murah dua bulan ini. Alih-alih mau memilih, saya malah menganggapnya nomor togel atau nomor buntut paling jitu, jadi mungkin bisa jadi cepat kaya. Entah apa, tapi rasanya praktek “buang uang” macam ini tidak akan mencerdaskan. Sebaliknya, malah menjadikanpara stake holder terbesar bangsa ini, rakyat kecil dan orang-orang di pelosok kampung, jadi bingung, muak, dan tak acuh.

Melihat hal-hal yang absurd tersebut, tak sengaja saya ingat pembicaraan saya dengan seorang yang bijak bestari. Pembicaraan beberapa bulan lalu, namun masih terngiang sampai sekarang.

***

Jarum panjang di jam itu menunjuk angka enam, tegas, tidak bergeser. Cuma jarum pendeknya yang agak malu-malu, antara menunjuk angka enam dan tujuh. Dengan langkah tergopoh-gopoh saya menuju Mushola yang terletak di dalam fakultas karena saya belum sholat maghrib.

Di Mushola, Pak Umar sedang istirahat, sepertinya baru selesai beres-beres mushola.

“Dari upt Rip?”

“Iya, Pak! Sholat dulu nih…!”

Perpustakaan pusat akrab disebut anak UI dengan nama UPT. Padahal, UPT bukanlah singkatan dari perpustakan pusat, tapi itu singkatan dari Unit Pelayanan Terpadu, dan yang namanya UPT itu di UI banyak, semua bentuk pelayanan di UI itu nama depannya UPT. Tapi, mau bagaimana lagi, konstruksi tiga huruf U,P, dan T telah diyakini sebagai manifestasi dari sebuah bangunan kokoh terpencil di UI; Perpustakaan Pusat.

Sholat selesai, Pak Umar masih terlihat santai di teras mushola. Ketika saya keluar mushola, beliaupun menegur saya.

“Mau kemana, Rip? Nggak nunggu isya? Sini aja udah, nunggu isya aja dulu!”

“Iya Pak! Mau pulang juga tanggung!”

Akhirnya, kebiasaaan seminggu belakangan ini dimulai. Setelah sholat maghrib saya yang terlambat, sambil menunggu isya, saya dan Pak Umar ngobrol-ngobrol masalah macam-macam, biasanya tentang sepakbola. Lantaran sedang musim Piala Eropa, sekarang pembahasan lebih terfokus pada hajatan akbar itu.

“Portugal kalah pak!”

“Ronaldo nggak ada apa-apanya kan?!”

“Payah, padahal mau liat dia ngibrit di lapangan, malah diem aja, dia maennya nggak kayak di M.U Pak!”

“Berarti ini masalah pelatihnya”

Pak Umar tangkas juga meladeni percakapan seputar sepakbola mancanegara begini. Hmm…mungkin Pak Umar ini komentator tarkam di kampungnya.

Kalo sama Ferguson, Ronaldo maennya lebih enak, karena udah dianggep bapaknya sendiri.”

“Ooooo” saya hanya mengangguk takzim.

Mulai dari sini, komentar berputar sekitar hubungan keluarga yang terlihat di sepakbola. Pak Umar melihat kalau di sepakbola, peran pelatih bisa sebegitu jauhnya terhadap anak asuhannya, terutama di Manchester United (MU). Di MU, Alex Ferguson seperti telah menjadi bapak. Dia melatih anak-anak Manchester sedari muda. Dia pulalah yang memoles kebintangan dari pemain-pemain itu. Bagi siapa saja yang mengikuti petunjuknya, bermain dengan sepenuh hati di lapangan, dia akan sangat menyayanginya di dalam dan di luar lapangan. Dan pemain pun demikian, sebagai balasan atas kasih sayang dan perhatian Ferguson di dalam dan di luar lapangan, mereka akan sangat menghormatinya. Ada hubungan indah yang terbentuk dari mekanisme saling memberi dan menerima ini. Dan Pak Umar, sangat tahu hal ini, mungkin karena dia juga seorang bapak yang hampir seangkatan dengan Ferguson.

“Sepakbola di Indonesia nggak bisa maju…karena apa-apa di Indonesia mahal!”

“Oh, begitu pak?”

“lah, iya! Sekarang kalau kita mau maen bola, mesti nyewa, nyewanya mahal. Belum sepatunya, bolanya, kostum. Sekarang ‘kan apa-apa mahal, gemana mau maju!”

Wah, Pak Umar sekarang dapat poin pentingnya. Sepakbola kita morit-marit sekarang kurang lebihnya ya karena ini, akses yang terbatas terhadap sarana dan prasarana. Lahan makin sempit, kalaupun ada, sudah jatuh ke tangan-tangan pengusaha yang sedang giat-giatnya mendirikan fasilitas berbayar baru bernama arena futsal dan semacamnya. Alih-alih membudidayakan olahraga tersebut, malah mematikan inisiatif warga untuk bermain sepakbola. Lahan yang luas dipotong kecil-kecil, menjadi banyak lapangan kecil. Lapangan-lapangan kecil itu kemudian disewakan pada mereka yang bermodal. Terlihat’kan, bagaimana industri tersebut telah merebut kesempatan banyak orang?! Mungkin saja di suatu tempat di sana ada seorang Del Piero muda di bawah jembatan, sedang menggiring bola plastik melewati lawannya. Yang mungkin tidak terpantau umum karena dia tidak bisa ikut main di Planet Futsal, dan dia juga mungkin tidak punya uang yang cukup untuk bersekolah di sebuah sekolah sepakbola. Mungkin.

Namun, demi melihat gelagat Pak Umar yang menarik nafas panjang, saya tahu bahwa pembicaraan ini akan melebar.

Kalo menurut saya, semua yang untuk umum itu harus digratiskan, supaya semua orang bisa make!”

“Betul Pak!”

“’kan ini untuk bangsa juga!”

“Wah, setuju Pak! Kalo apa-apa mahal gimana kita mau maju!”

“Sekarang sekolah mahal, apa-apa mahal, kalo ada anak yang pinter, terus sekolah di luar negeri, mana mau balik lagi ke sini?! Mendingan dia kerja di luar aja, gajinya lebih gede, lebih diperhatikan juga sama bosnya!”

Betul! Sekarang Pak Umar sudah masuk ke ranah publik secara keseluruhan. Masalah sosial seperti ini yang jadi polemik para sarjana kita. Tapi, Pak Umar belum selesai.

“Sekarang sekolah udah mahal, jadi yang bisa sekolah tinggi, terus jadi bos, ya mesti nyari duit sebanyak-banyaknya buat ngebahagiain orang tua mereka. Mereka udah nggak sempet lagi mikirin bangsa. Yang penting, mereka itu harus bisa membalas semua pengorbanan orang tua mereka yang sudah menyekolahkan mereka sampai berhasil. Itu aja!”

Dengan logat daerah Kebumen yang bercampur dengan analisis dunia global, membuat pembicaraan Pak Umar terasa gegar budaya yang kental. Logat daerahnya berkelindan dengan kaidah tata bahasa Indonesia yang lumayan mumpuni, meskipun kadang terselip juga ‘nuansa’ daerah yang terdengar dari ucapannya. Mungkin ini adalah hasil dari perjalanan mentalnya selama puluhan tahun bekerja di bawah atap intelektualitas “tiga” fakultas besar di UI; Fakultas Sastra di Rawamangun, Fakultas Sastra di Depok, dan sekarang Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) di Depok. Percakapan pun berlanjut.

“’Kan kalo pemerintah mau ngasih gratis fasilitas untuk publik itu, nanti ‘kan semua orang yang pada sekolah, maen bola, pasti bakal merasa berhutang pada bangsa. Kalo udah begini, nantinya orang-orang itu pasti mau berbakti buat membangun bangsa juga. Kalo sekarang ‘kan enggak.”

Ada benarnya juga apa kata Pak Umar ini. Jika sekarang pemerintah seperti tidak memperhatikan nasib rakyatnya, bukan salah rakyat yang tidak mengerti apa itu konsep ‘bela negara’. Masalahnya, rakyat sekarang tidak merasakan bahwa negara membela mereka. Pemerintah, yang menjadi representasi dari negara, terlihat hanya sibuk dengan dirinya sendiri. Pemerintah yang seharusnya menjadi sebuah kendaraan untuk menyejahterakan rakyat yang berdiam di dalam sebuah negara, malah sebaliknya, menjadi musuh rakyat nomor satu. Negara ini bisa jadi negara yang autis, bukan terhadap negara lain, tapi terhadap rakyatnya sendiri. Terbayangkah kawan, jika ada seorang yang autis, kepala dan tangannya sering bertindak tidak sejalan. Kepala ingin ke mana, tangan maunya ke mana. Mungkin ini akan jadi sebuah varietas penyakit autis baru. Buka mata, ini nyata, Cuma di Indonesia.

“Ini Cuma pendapat saya, orang nggak sekolah!”

Gaya Pak Umar merendah waktu mengucapkan kalimat penutupnya tadi. Tapi dari caranya berbicara itu, saya jadi sadar bahwa masalah bangsa ini telah menjadi sebuah isu yang jika di lihat dari kaca mata awam juga sudah sangat jelas. Dengan keberpihakan pemerintah yang lebih memilih membela kepentingan asing, tidak bisanya kita mandiri bahkan hanya untuk memenuhi kebutuhan pangan dalam negerinya sendiri ini, dan kebijakan yang jauh dari harapan rakyat, membuat seorang awam seperti Pak Umar yang seorang marbot mushola, bukan politikus, sudah bisa melihat dan menjelaskan secara gamblang dan komprehensif bagaimana seharusnya pemerintahan ini dijalankan.

Mungkin seorang seperti Pak Umar punya visi pemerintahan yang lebih jelas dibanding orang yang sekarang jadi orang nomor satu di negeri ini. Saya Cuma membayangkan, kalau saja Pak Umar yang jadi presiden saat ini, SBY berganti jadi seorang marbot mushola di FIB ini, Jusufkalla adalah seorang pedagang es teh di kantin, dan para menterinya seperti Abu Rizal Bakrie adalah seorang tukang potong rumput. Mungkin saat ini saya akan duduk di Mushola sambil ngobrol tentang sepakbola dengan SBY, lalu Jusuf Kalla datang ke mushola untuk bersama-sama kami mengerjakan kewajiban sholat Isya jam tujuh nanti. Abu Rizal Bakrie baru pulang dari kerja sambilannya ngojek di depan fakultas dan harus masbuk karena kita sudah mulai memasuki sholat raka’at kedua. Selesai sholat, sebelumsaya pulang dan setelah SBY membereskan pekerjaannya sebagai seorang marbot mushola yang baik, kita ngobrol sebentar tentang kondisi Indonesia yang sudah sejajar dengan Malaysia dan Singapura. Ekonomi kita sudah maju pesat dan menjadi barometer perekonomian Asia Tenggara. Pendidikan kita telah maju dan berhasil memenuhi target kelulusan siswa SMA dengan rata-rata nilai 8,75 karena semua siswanya sekarang berangkat sekolah demi tujuan keilmuan yang murni untuk memajukan peradaban bangsanya. Anak-anak pergi sekolah tanpa harus berpikir tentang masalah biaya. Itu semua karena biaya sekolah telah digratiskan. Dan bagaimana olahraga kita? Tim nasional sepakbola kita telah berhasil mengukir prestasi sebagai pemenang Sea Games dan Asian Games. Juga lolos mengesankan dari babak kualifikasi piala dunia zona Asia Tenggara dengan predikat juara grup, setelah mematahkan perlawanan Malaysia 4-0 dan Thailand 5-2. Di Piala Asia, kekuatan sepakbola kita hanya bisa ditandingi oleh Jepang yang membuat kita harus menjalani babak perpanjangan waktu 2 X 15 menit untuk menang 1-0 di semifinal. Dan Australia yang membuat tim nasional kita harus melewati babak tos-tosanmenang adu penalti 6-4 di babak final. Pada saat itu, Indonesia sudah menjadi sebuah negara yang berdaulat atas tanah, air, dan udaranya. Kapal laut dari bangsa lain seperti Jepang akan merasa sangat aman ketika mereka harus singgah di perairan Indonesia. Posisi kita di PBB sangat kuat dengan terpilihnya seorang anak bangsa Indonesia menjadi sekjen PBB untuk lima tahun ke depan.

“Wah, Indonesia sudah maju ternyata!”

Namun, azan di sebuah mushola telah berkumandang pada kadarnya. Lantunan itu berseru-seru memanggil dan menyeru segala umat untuk menuju kemenangan atas dunianya dan dirinya masing-masing. Demi mendengar itu, lamunan saya buyar.

“Ayo Rip, saya tak azan dulu!”

“Silahkan pak, saya wudhu dulu”

Dengan cepat saya sudah kembali ke dunia nyata. Tempat di mana semua yang ada kebalikan dari dunia lamunan saya tadi. Di hadapan saya masih Pak Umar, bukan SBY. Dan Jusuf Kalla tidak menjadi seorang penjual es di kantin. Abu Rizal Bakrie juga tidak datang ke mushola karena dia bukan seorang pemotong rumput yang bekerja sambilan jadi tukang ojek di depan fakultas.

Sambil beranjak dari duduknya dan menuju mimbar, Pak Umar masih sempat menegur dan bertanya.

“Kroasia Turki nanti malem gimana Rip?”

“Turki deh Pak!”

***

Bagaimana nasib bangsaku dua bulan lagi, tidak ada yang tahu. Hanya Dzat Yang Maha Tinggi yang tahu. Dia-lah yang berhak dan yang paling adil dalam menentukan nasib bangsa ini atas usaha yang sudah dilakukan. Jika kita lihat usahanya masih setengah-setengah, siapalah kita berani mengharap kemakmuran dan kesejahteraan.

Tiba-tiba saya menengadah ke atas dan berdoa; semoga usaha kami yang terlihat setengah-setengah ini tidak mengurangi rahmat-Mu atas tanah, air, dan udara.

Biarlah saya jadi orang yang tidak tahu diri di hadapan-Nya, daripada harus jadi orang yang tidak tahu diri di tivi, pinggir jalan, bahkan WC.

Astaghfirullah hal adzim…

Wahai Bapak Umar, Sudikah Kiranya Bapak Menjadi Presiden?

Depok, Maret 2009

Catatan:

  1. Tarkam / antar kampung: adalah sebuah kompetisi sepakbola amatir yang biasa dilakukan darikampung ke kampung.
  2. Marbot : penjaga mushola atau masjid

Aku, Dirimu, dan Tukang Tambal Ban!

June 15th, 2008 by dariarifuntukdunia

"aku, dirimu, dan tukang tambal ban!"

(sebuah penghormatan pada mereka yang abai)

 

waktu hujan itu
kau ingat…

yang airnya turun
dari atas kebawah itu…

masih ingatkah kau, kenapa air itu jatuh

dari atas ke bawah…

 

ku tuntun kau,
tak peduli air mengalir

begitu akrab….

kulihat dari
jauh…

 

"ada
harapan!"

 

makin dekat,
hanya saja hujan sudah

tidak bersahabat
lagi,

angin telah
mengambil tempatku di hati

hujan…

 

kududukkan kau di
sana…

biar dia yang
mengurusmu…

 

aku pergi
sebentar, jangan di cari…

 

 

 

 

 

(sialan, ujan,
ban bocor, tukang tambal

ban masih jauh nih…neduh dimana gw)

Revolusi Bintang di Bernabeu.

August 30th, 2007 by dariarifuntukdunia

Revolusi Bintang di Bernabeu.

            Langit Bernabeu saat itu biasa saja. Cerahnya menyiratkan banyak makna. Bintang yang berkilauan tak bisa berkata apa-apa. Benar-benar tidak ada yang berbeda kala itu. Yang menjadikannya berbeda adalah apa yang tengah mereka saksikan. Di bumi Bernabeu dengan bersimbah peluh anak-anak Madrid sedang bersusah payah menggulirkan bola dari satu kaki ke kaki yang lainnya. Mereka tengah berjuang menyelamatkan peluang mereka menjuarai gelar La Liga musim ini.

Ajaib! Mereka berhasil. Dengan susah payah mereka melewati jegalan tim sekota Barcelona: Espanyol. Tertinggal 1-3 tidak membuat habis perlawanan tim ibukota itu. Kekuatan mental yang membludak menjadikan para punggawa Madrid dapat terus berlari, menendang, bahkan mencetak gol. Optimisme jelas terlihat ketika gol demi gol tercipta dari kaki Raul dan Reyes. Kedua pemain itu mencerahkan lagi suasana Madrid yang kelam.

Akhirnya saat itu datang juga. Higuain dengan tenaga segarnya berhasil mendapat lubang di antara tembok-tembok Espanyol yang lelah. Dengan kerjasamanya bersama Reyes, Higuain berhasil melewati satu persatu halangan Espanyol. Bola itu akhirnya bergulir dengan anggunnya di dalam gawang Idriss Kameni. 4-3! Skor akhir untuk kemenangan Real Madrid. Sontak keriaan tercipta di Bernabeu. Kekalahan di depan mata berhasil di konversi menjadi kemenangan yang gilang-gemilang. Barcelona hanya bisa berharap kemenangan datang pada mereka sehingga bisa menghapus sinar di mata pemain Madrid dan para madridista. Namun malang tak dapat di tolak, kemenangan Madrid seakan menjadi ganjalan pada kaki Carles Puyol dan kawan-kawan. Fakta bahwa mereka tertinggal satu poin selalu menggantungi mata-mata mereka yang gelisah. Hal ini bukan saja menumpulkan barisan depan Barcelona, tapi juga meluluhlantakkan pertahanan yang mereka galang dengan solid selama ini. Mereka harus menerima kenyataan tertinggal secara head to head dengan Madrid. Madrid berpesta.

Apa yang terjadi sebenarnya? Apakah ini hanya keberuntungan atau sebuah hasil dari proses yang sedang terjadi di Madrid. Mari berpikir positif. Hasil yang diperoleh Madrid bukan jatuh dari langit begitu saja. Tren permainan yang positif turut membawa pengaruh pada posisi Madrid. Keberuntungan juga menjadi faktor lain yang tidak bisa dikesampingkan.

Apa yang Real Madrid tunjukan saat ini adalah Real Madrid yang berbeda dengan Madrid setengah tahun lalu. Mereka Berrevolusi! Perubahan yang mendasar dalam permainan telah mereka tunjukan, sekarang mereka adalah satu tim. Bintang-bintang Madrid telah membentuk satu-kesatuan ‘galaksi’ yang makin solid selama musim berjalan. Mungkin ketika di awal musim mereka masih meraba-raba kekuatan dari orang-orang di sekitarnya, ini bisa dikatakan adalah dampak dari sebuah revolusi yang diusung Capello. Namun sekarang, mereka sudah mengenal dengan baik satu-sama lain.

Revolusi di tubuh Madrid dapat kita lihat pada perubahan permainan dua pemain Madrid. Robinho dan Beckham. Robinho telah berubah, sekarang ia tidak lagi terlalu mudah jatuh. Ia hanya jatuh di tempat-tempat ‘tertentu’. Determinasi dan keinginan kuatnya dalam bermain, bercampur dengan kemarahannya sebagai pemain yang selalu dicadangkan di awal musim membawa perubahan mendasar pada perubahan permainannya. Madrid jadi lebih dinamis dengan pergerakannya yang lebih kuat. Beckham sendiri telah menunjukan siapa dia sebenarnya, ia telah menemukan dirinya lagi. Selama tiga musim ini ia selalu mencari bentuk permainan terbaiknya. Namun, dengan memaksakan ia bermain sebagai pusat permainan ternyata tidak efektif, sisi kanan adalah tempat yang paling baik untuk Beckham berkreasi. Potensinya dapat dioptimalkan di sana. Sampai saat ini belum ada pemain yang dapat mengirim umpan dengan tingkat akurasi yang ia miliki. Sayang, ia harus pergi musim ini. Sungguh sebuah kerugian yang besar.

Di luar mereka berdua, permainan Madrid secara keseluruhan memang telah berubah. Kini mereka telah bermain bukan hanya dari kaki ke kaki, tapi juga dari hati ke hati. Pemain-pemain Madrid telah menyadari pentingnya kebersamaan dalam pertandingan. Permainan mereka telah berubah menjadi sebuah keindahan. Kaki-kaki mereka seperti bernyanyi. Perpaduan antara umpan, gerak lari, aliran bola, tendangan, bahkan sliding dan tekel bagai perpaduan notasi yang apik dari sebuah mahakarya seni sepakbola. Emosi yang tercurah di lapangan tersampaikan pada para madridista. Tidak ada lagi lambaian kain putih dan siulan. Yang ada hanya decak kagum dan tepuk tangan. Cemoohan telah berubah jadi dukungan.

Dan akhirnya, malam ini pun tiba. Malam yang menentukan. Malam ketika emosi bersatu membentuk sebuah nyayian kegelisahan dari seluruh penjuru kota Madrid. Kegelisahan tersebut bahkan mendunia, yang dirasakan juga di tanah air. Harapan tertumpuk pada para pemain Madrid untuk membawa pulang tropi juara lambang supremasi kedigdayaan sebuah klub Spanyol. Sayangnya, hal ini berdampak buruk. Madrid tertinggal 0-1 dari Mallorca.

Namun lagi-lagi, mental juara yang bicara. Permainan Madrid yang buruk secara umum, tergesa-gesa, berubah ketika Jose Antonio Reyes Masuk dan membuat gol. Luar biasa!! Lega, sangat lega! Gol itu seakan menjadi pintu dari sebuah keniscayaan. Benar saja. Mohamadou Diarra dan Reyes berhasil mencetak gol kemudian, dan membawa Real madrid pada kemenangan 3-1 yang gilang-gemilang. Gol Mohamadou Diarra dan gol kedua Reyes itu bukan saja menjejakkan tangan-tangan Madrid pada tropi juara, tapi lebih dari itu, menandakan sebuah perubahan mendasar pada diri Madrid secara keseluruhan. Real Madrid benar-benar berrevolusi. Keteguhan hati dan determinasi juga mental juara yang hilang dari tanah Bernabeu terlihat lagi. Siklus kedatangan kembali Capello setelah sebelas tahun seakan menandakan bahwa Madrid telah melewati satu sisi gelap dari fase revolusinya. Menakjubkan.

Sebagai pencinta sepakbola pada umumnya dan Real Madrid pada khususnya saya sangat terharu. David Beckham dan Roberto Carlos telah mengucapkan salam perpisahan yang begitu dramatis. Sangat elegan. Mereka bisa membawa kejayaan ini ke tim baru mereka dimanapun mereka ‘berlabuh’ nanti. Revolusi Capello yang meragukan di awal musim, seiring terolah waktu, berbuah kemenangan indah.

Apa yang kita lihat di sini? Tak lain dan tak bukan adalah sebuah hasil dari kerja keras. Sikap mau menerima kritik dan cemoohan menjadi amunisi perubahan merupakan hal yang penting dalam proses mencapai kemenangan. Real Madrid telah melewati itu. Penolada yang sering berkibar dan siulan pendukung sendiri selayaknya dapat menjadi pembunuh dari daya juang pemain sebuah klub. Namun, jika kita melihat hal tesebut dari sisi lain, hal-hal tersebut dapat dikonversi menjadi bahan bakar semangat sebuah tim untuk meraih kesuksesan. Karena pada dasarnya segala caci dari pendukung sendiri merupakan bentuk dukungan dalam kemasan yang lebih tajam. Tergantung bagaimana kita menyikapi ‘dukungan’ tersebut.

Lihatlah itu Indonesia. Berubahlah. Kita merupakan bangsa yang besar. Bangsa yang pernah jaya dalam sepak bola. Kita pernah manjadi macan Asia. Taring dan kuku-kuku kita pernah tertancap dengan gagah di tanah Asia yang megah ini. Tapi kemana semua itu? Hilang digerus waktu. Sekarang yang tersisa hanya kebanggaan-kebanggaan yang layaknya sebuah utopia, tak bisa tercapai. Bangkitlah! Sekarang adalah waktu yang tepat. Di sini, di tanah ini, kita pasti bisa mencapai cita-cita kita. Kita pasti bisa membuat sepak bola kita menjadi sebuah kekuatan yang kongkrit di Asia, bahkan di dunia. Dengan usaha yang keras dan mental yang membaja, kita pasti bisa mewujudkan impian kita itu. Sebuah impian yang lama terpatri dalam benak kita. Impian yang menjadi landasan dari tujuan kita. Kejarlah mimpi-mimpi itu, dengan penuh keyakinan, doa, dan tanggung jawab kita pasti bisa merubah nasib kita dalam kancah persepakbolaan dunia. Berusahalah. Seseorang dari Belitong pernah mengatakan pada kami untuk tidak menyerah pada nasib. Di sini, di dunia ini, “Kita tidak akan pernah mendahului nasib kita!”

Berrevolusilah Indonesia!!!                 

           

(Dibuat untuk menyambut Piala Asia 2007, sekaligus rasa sukur atas kemenangan Madrid)

Regenerasi: kebutuhan sebuah klub

August 30th, 2007 by dariarifuntukdunia

Regenerasi: kebutuhan sebuah klub

Beberapa waktu lalu, publik sepakbola dikejutkan aksi impresif gelandang muda Barcelona Lionel Messi. Ia mencetak hat trick pada sebuah duel klasik yang gengsinya menggema ke pelosok jagat persepakbolaan. Yang lebih membuat dramatis kejadian ini adalah ia membuat hat trick ini di usia yang sangat muda. Bukan main! Kejadian ini langka, karena dalam 2 dekade terakhir hanya Romario yang mampu melakukan hal yang sama. Itu juga ketika ia sudah menjadi superstar, berbeda dengan Messi yang masih berlabel potensial. Siapa messi sebenarnya? Darimana datangnya “setan kecil” yang bisa  membuat Capello terdiam lesu ini?

Argentina bersama Brasil merupakan pabrik pembuat seniman sepakbola yang tak henti-hentinya berproduksi. Sepakbola yang menjadi agama pendamping bagi masyarakat Amerika Latin menjadi faktor pendukung melimpahnya bakat-bakat sepakbola di sana. Carlos Alberto Pareira pun bingung untuk memilih skuad yang akan diturunkannya ketika Piala Dunia Jerman 2006 Juni tahun lalu. Hal yang sangat disayangkan yang dilakukan pelatih sekaliber Parreira. Padahal ia didampingi Profesor Mario Zagalo, namun ini tetap tidak dapat menolongnya keluar dari kerumitan. Hal yang tidak jauh berbeda dialami Jose Pekerman. Kondisi yang memaksa Pekerman menyimpan Messi pada pertandingan melawan Jerman. Hal ini menyebabkan kilau pesona Messi tidak terlihat seperti yang diharapkan masyarakat sepakbola. Pekerman seolah ingin menyimpan sebuah bom waktu yang akan diledakkannya empat tahun lagi. Sayang keputusannya itu membalik semua harapannya dan membingungkan milyaran pasang mata yang turut menyaksikan big match tersebut.

Messi secara tidak sengaja ditemukan oleh Barcelona. Untuk hal ini Messi harus berterima kasih pada penyakit yang dialaminya sewaktu ia masih kecil. Ibunya sibuk mencari klub yang mampu menampung bakat melimpah sang bocah, kendati ia sedang sakit. Banyak klub yang menolaknya karena kondisinya yang dianggap perjudian. Menerima seorang pemain muda yang sakit dan belum tentu berkembang hanya akan menambah beban pengeluaran. Ketika sang Ibu membawa lamarannya ke Barcelona, Barcelona melihat bahwa anak ini punya sesuatu dalam dirinya. Messi pun diterima masuk akademi sepakbola Barcelona. Hasil yang menggembirakan di dapat Barcelona saat ini. Calon legenda telah lahir dari rahimnya sendiri. Messi menjadi salah satu pemain yang paling berbahaya di dunia.

Selain Messi, masih ada beberapa nama lain yang patut dilirik lebih lanjut. Andres Iniesta telah membuktikan bahwa ia pemain yang patut diwaspadai. Itu dibuktikan dengan gol semata wayangnya ke gawang Inggris pada pertandingan persahabatan beberapa waktu yang lalu. Selain itu Cesc Fabregas juga mengalami hal yang sama. Di bawa Arsene Wenger dari skuad junior Barcelona, Fabregas telah menjadi pemain kunci pada setiap pertandingan Arsenal. Bakatnya memukau Real Madrid—rival utama Barcelona. Percobaan pembajakan Madrid terhadap Fabregas terpaksa membuat Barcelona campur tangan. Sadar bahwa Fabregas telah berkembang menjadi “senjata yang ampuh” , Barcelona menyatakan keberatannya atas niat Fabregas kembali ke Spanyol untuk merumput di Santiago Bernabeu. Wenger pun sadar akan pentingnya keberadaan Fabregas di skuadnya. Ia pun mengikat bocah ajaib itu dengan kontrak panjang dan memberikan nomor 4 warisan Patrick Vieira pada Fabregas. Kontrak baru sekaligus nomor kebanggaan mampu menahan anak muda ini di Emirates Stadium.

Yang unik, pada umur messi yang masih amat muda ini, ia sudah punya calon pengganti pada diri Giovanni dos Santos. Anak muda Melsiko ini dinilai memiliki tipikal yang sama dengan Messi.  Frank Rijkard sendiri yang mengganransi kemampuannya. Ia juga berniat untuk memberikan debut pada anak itu saat kejuaraan dunia antar klub musim 2006/2007 di Jepang. Sayang itu tidak bisa diwujudkan. Barcelona gagal mendapat gelar juara. 

Madrid sebenarnya tidak kalah produktif dalam mencetak pemain handal. Legenda mereka Fernando Hierro merupakan produk asli Madrid. Raul menimba ilmu di Madrid junior hingga menjadi kapten termuda Madrid sekarang, menggantikan Hierro yang hengkang karena tidak sepakat dengan kebijakan klub yang mendatangkan David Beckham. Casillas juga merupakan pemain asli binaan Madrid yang memiliki penampilan paling konsisten di antara bintang-bintang Madrid sampai saat ini. Pemain muda seperti Portillo, Ivan Riki, dan Soldado telah menjadi bagian integral di klubnya masing-masing. Bahkan Samuel Eto’o merupakan pemain yang ditemukan Madrid di Afrika. Para pemandu bakat Madrid berhasil menemukan sebuah mutiara di gurun. Sayang, manajemen Madrid terlalu berpikir money oriented. Pemain ini mereka yakini tidak akan banyak berguna mendongkrak prestasi keuangan Madrid. Ia pun dipinjamkan ke Mallorca. Ditelantarkan sekian lama membuat Eto’o terpacu hasratnya mengalahkan Madrid. Ia ingin menunjukkan bahwa Madrid salah menyia-nyiakannya. Pada musim 2003/2004 Eto’o berhasil memuaskan hasratnya. Ia membawa Mallorca menang di Santiago Bernabeu. Dua golnya membungkam semua pihak yang pernah meragukannya.

Madrid hanya bisa meratapi nasibnya. Pemain muda yang sakit hati itu tak mau lagi menginjakan kakinya di Bernabeu, kecuali untuk mangalahkan Madrid. Barcelona sigap melihat fakta ini. Mereka segera melakukan pendekatan yang intensif. Dengan visi yang jelas, menguasai Spanyol dan Eropa, Eto’o menerima lamaran Barcelona. Prestasi demi prestasi dating silih berganti. Dua gelar juara La liga serta satu piala Champion menjadi bukti kesaktian anak muda ini. Ia pun menjadi kandidat pemain terbaik dunia dan Eropa.

Terlihat bahwa regenerasi bukanlah hal yang sepele dalam kelangsungan hidup sebuah klub. Regenerasi penting untuk menjaga tradisi mental juara yang hanya bisa diwariskan dari generasi ke generasi. Pemain bintang hanyalah sebuah bahan penambal yang hanya diperlukan di bagian tertentu sebuah klub, bukan di setiap bagian. Pemain bintang selayaknya menjadi penopang pemain muda dan pemain lain yang non-bintang. Komposisi yang tepat wajib tercipta di sini. Layaknya penyedap rasa, ia tidak boleh mendominasi seluruh masakan. Pemain muda merupakan pondasi, sektor yang wajib diperkuat dan diperhatikan. Pemain muda bagaikan berlian tertutup serabut. Kecerobohan membuang pemain muda terlalu dini hanya akan menghadirkan penyesalan yang membuat kita merasa seperti membuang berlian ke tempat sampah. Siapa yang menemukannya akan mendapat manfaat yang amat banyaknya, yang membuangnya akan mendapat sengsara yang bertingkat-tingkat.           

(Dibuat guna menyambut datangnya musim baru kompetisi 2007/2008)            

Zidane : Melkisedek Bola (Sebuah tulisan yang menginspirasi)

August 30th, 2007 by dariarifuntukdunia

Zidane: Melkisedek Bola

Adalah seorang lelaki tua, Melkisedek namanya, Pada anak gembala yang sedang mencari harta karun itu, ia berpetuah tentang takdir manusia. Dan beginilah Paulo Coelho menuliskan petuah tersebut dalam bukunya The Alchemist, yang terkenal itu.

 

“Takdir adalah apa yang selalu ingin kau capai. Semua orang, ketika masih muda, tahu takdir mereka. Pada titik kehidupan itu, segalanya jelas, segalanya mungkin. Mereka tidak takut bermimpi, mendambakan segala yang mereka inginkan terwujud dalam hidup mereka….” Lalu Melkisedek berpesan, satu-satunya kewajiban sejati manusia adalah mewujudkan takdirnya. “Dan saat engkau menginginkan sesuatu, seluruh jagat raya bersatu padu untuk membantumu meraihnya,” katanya.

Petuah Melkisedek itu berlaku untuk siapa saja, juga untuk pemain bola. Dan jika pada zaman ini ada pemain bola yang telah melengkapi takdirnya, maka ia adalah Zinedine Zidane. Seperti anak gembala yang terlunta-lunta memburu harta karun dalam novel The Alchemist itu, Zidane juga harus melalui jalan yang penuh duri untuk melengkapi takdirnya sebagai pemain bola.

Ia adalah anak imigran miskin yang hijrah dari Afrika Utara. Sesampainya di Perancis, mereka tinggal di La Castellane, sebuah tempat tanpa harapan, terletak di pinggiran Marseille. Di tempat itulah Zidane kecil bermain bola. Ia bermain di jalanan, gawangnya ditandai dengan batu atau baju. Siapa yang menang memperoleh piala dari gelas plastik.

Zidane bilang, di antara teman bermainnya, ia bukanlah yang terbaik. Namun, ia dikenal tekun dan tak pernah menyerah. “Ketika teman-teman sudah pulang ke rumah, saya masih mempelajari trik-trik bola dengan kaki saya,” kata Zidane mengenang masa kecilnya………………” “Apa yang sekarang saya bisa lakukan di lapangan, itu semuanya telah saya pelajari dulu di jalanan,” katanya menambahkan.

Umur 13 tahun, Zidane, anak bungsu itu, ditemukan oleh Jean Varraud, pemandu bakat AS Cannes. Ia harus berpisah dari orangtuanya. Hari-hari pertama dilewatkannya dengan tangis karena ia rindu akan rumahnya. Umur 16, ia sudah menjadi profesional di Bordeux, sebelum ia ke Juventus, Turin.

 

Puncak permainan

Menjelang melawan Spanyol ia mendengar kabar, Jean Varraud meninggal dalam usianya yang ke-85. “Saya menjadi seperti sekarang karena Varraud,” kata Zidane. Maka kematian Varraud adalah berita sedih baginya. Tetapi justru di tengah kesedihan itu, Zidane memperlihatkan puncak permainannya. Pujian datang bertubi-tubi kepadanya apalagi ketika Perancis mengalahkan Brasil.

Zidane adalah magi bagi kesebelasan Perancis, lebih-lebih ketika mereka berada dalam keadaan kritis. “Ia bukan pemain bola ia adalah keberuntungan,” kata Laurent Blanc, mantan pemain Perancis. “Ia seperti tidak datang dari dunia ini,” kata Aime Jaquet, mantan pelatih Perancis. “Ia seperti dewa, ia bermain bola dengan kemolekan seorang balerina,” puji David Beckham.

Melawan Brasil, Zidane memperlihatkan diri sebagai “penguasa lapangan tengah sejati”. Bola melekat di kakinya. Dan dengan sentuhan satu-duanya, bola mau saja menuruti ke mana Zidane menghendaki takdirnya. “Itulah permainan hidupnya,” puji koran L’Equipe. Bola dan kaki Zidane seakan memperagakan kata-kata ini, pulchrum est quod visu placet, apa yang indah adalah apa yang menyenangkan pandangan mata.

Zidane telah melengkapi takdirnya sebagai pemain bola. Tak hanya itu, ia juga telah menjadi “Melkisedek Bola”. Selepas pertandingan Brazil Melawan Perancis, ia mengusap pipi Lucio dan mengelus-elus rambut Ze Roberto yang terkapar di rumput. Seakan ia hendak menghibur pemain Brasil itu, bahwa kekalahan adalah duri yang memang harus dilalui oleh pemain bola. Lalu si kecil Robinho merangkul lehernya, seperti “anak kera yang tak mau berpisah dari ibunya”. Kepada Zidane, rekan seklubnya di Real Madrid, si kecil Robinho melihat teladan yang meneguhkan, yakni bahwa masih sangat panjanglah jalan untuk melengkapi takdirnya sebagai pemain bola.

Zidane adalah pemain bola hebat. Tetapi ia dikenal sebagai pribadi pendiam dan rendah hati. Tak heran, bukan hanya kawan, tetapi lawannya pun amat menghormatinya.

“Tak mungkinlah jika orang tidak mencintainya,” kata Marcello Lippi.

 

Melebihi pemain muda

Tiga puluh empat tahun bukan lagi usia muda bagi pemain bola, apalagi untuk pemain lapangan tengah. Tetapi Zidane memperlihatkan, di usia tersebut ia masih dapat bermain dengan ideal, melebihi pemain-pemain muda. Pada Zidane, memancar kebenaran kata-kata Albert Schweitzer, dokter pencinta kemanusiaan. Kata Schweitzer, orang tidak menjadi tua karena bertambahnya usia, tetapi karena ia menyerah dan mengucapkan selamat tinggal kepada cita-citanya. Ia tidak menjadi tua karena kisut kulitnya, tetapi karena meringkus jiwanya.

Maka, kata Schweitzer lagi, kamu akan muda semuda kepercayaannya, dan kamu akan tua setua keraguanmu. Kamu akan muda semuda harapanmu, dan kamu akan tua setua keputusanmu. Maka sejauh keindahan, kegembiraan, keagungan dunia, manusia dan Tuhan merambati hatimu, kamu akan tetap tinggal muda selamanya.

Zidane telah menyatukan harapan, keindahan, dan keagungan jagat bola ke dalam dirinya. Karena itu ia tetap muda dalam permainannya kendati sudah tua usianya. Namun, seperti dikatakan dalam The Alchemist, dengan berlalunya waktu, akan datang daya misterius yang meyakinkan, bahwa mustahil orang bisa mewujudkan takdirnya. Zidane pun tahu akan hal itu. Karena itu ia sadar, inilah hari-hari terakhir ia menggenapi takdir bolanya. Ia menangis ketika mengucapkan kata-kata perpisahan di Real Madrid. Dan kini mungkin publik bola dunia akan menangis karena kepergiannya.   

(Disadur dari artikel koran Kompas sehari setelah Perancis mengalahkan Brazil pada Piala Dunia Jerman 2006)    

Bahasa Bola di Piazza Venesia

August 30th, 2007 by dariarifuntukdunia

Bahasa Bola di Piazza Venesia.

Terasa tiada lagi batas-batas formal aturan lalu-lintas yang mencegat, terasa putuslah garis-garis beda warna kulit, hitam, coklat sawo matang, putih, atau warna biru jelita orang-orang italia dengan bangsa-bangsa lain di sini. Dan lihatlah, bahasa sepakbola telah menyatu-saudarakan orang-orang itu, …

            Begitu penyerang tengah Italia, Salvatore “Toto” Schilacci menyundul umpan lambung bola Gianluca Vialli, bergetarlah jala gawang

Austria

, 1-0, Italia menang. Seluruh jalan bersorak, seluruh warga bergempita! Anda bisa langsung bertanya: bagaimana orang Italia terutama warga Roma melampiaskan kegembiraannya?

            Dari pukul 23.00, setelah pertandingan usai, mereka berarak-arak dengan mobil dan sepeda motor. Tua-muda, laki-laki-perempuan, semuanya menyatu menderu-deru dengan klakson mobil, serta lambai bendera tiga warna Italia: merah, putih, dan hijau serta warna-warni bendera para pendukung bertuliskan “Forza Italia” dan “Viva Italia”—Maju terus Italia dan Hidup Italia.

            Nyayian klakson arak-arakan mobil masih mereka rasa kurang, mereka siap dengan terompet, tambur, dan gemreng yang dibunyikan keras-keras. Semua hanyut dalam kegembiraan yang satu ini. tamu-tamu asing diberi lemparan bendera bagus atau disalami tawa dan acungan tangan penuh persahabatan. Jalan-jalan jadi penuh menyemut, orang-orang keluar dari liangnya untuk berpesta bersama!

            Tiada lagi beda antara tua muda, tiada lagi kemarahan bila mobil tersenggol teman. Tiada lagi gerutu dari sopir bus

kota

, bila kendaraan besarnya itu digedor-gedor. Namun yang lebih terasa lagi, tidak ada anarkis sama sekali. Ini khas Italia dengan budaya “tifoso”-nya. Mereka bernyanyi, bergembira, mengajak berteriak, tetapi memberi ruang kebebasan bagi siapapun. Mereka bernyayi dan berlagu klakson, lalu beriringan menuju Piazza Venezzia: Sebuah piazza dengan monumen makam Vittorio Emmanuele II yang dijadikan monumen bagi para pahlawan penyatu Italia.

            Apa yang mengesankan? Budaya “homo ludens” terekspresi (manusia bermain spontan dan meluapkan suka cita dengan tetap menghargai dan menghormati yang lain)! Tercuat nyata gema satu persaudaraan dalam satu kehanyutan. Suka cita atas sebuah kemenangan. Di Italia, tempat politik kerap merupakan sumber frustasi lantaran penuh debat-debat kosong, atau kesulitan bangsa Italia untuk menyatu sebagai suatu negara karena beda warna budaya-budaya lokal dan sejarah kekayaan daerah-daerah bagian yang amat majemuk. Kesukaran ini setiap kali secara afektif mencair dalam persaudaraan sebangsa, karena kemenangan sebuah tim sepakbola nasional.               

            Di Piazza Venezzia, ikut merauk dalam udara malam Minggu 9 Juni tengah malam menuju fajar baru, terasa betul-betul mengecap betapa bahasa baru sepak bola yang mampu menyatukan lewat kemenangan sebuah gol membuat kita merinding, berdecak kagum lalu ikut hanyut dalam gandengan-gandengan tangan dan lambaian “tifosi Italiani” yang fanatik ini.

            Terasa tiada lagi batas-batas formal aturan lalu-lintas yang mencegat, terasa putuslah garis-garis beda warna kulit, hitam, coklat sawo matang, putih, atau warna biru jelita orang-orang Italia dengan bangsa-bangsa lain di sini. Dan lihatlah, bahasa sepak bola secara afektif menyatu-saudarakan itu, justru seakan menjadi sungai besar yang mampu memuat berbagai sampah rasialis, frustasi sosial, kekecewaan pribadi, semuanya dibawa arus untuk diluapkan ke laut luas tawa dan suka cita kemenangan, lalu dilebur di sana.

            Di sini secara eksistensial orang bersaudara satu sama lain dalam paspor suka cita kemenangan. Di Piazza Venezzia malam minggu itu, seakan ditemani meriah oleh pertanda alam, yaitu bulan purnama tepat di sisi kiri monumen Vittorio Emmanuele. Pertanda alam ini ditanggapi ribuan orang Italia yang lalu berkumpul, bernyayi, dan menyalakan kembang api. Semuanya berjakan tanpa satu ungkap tindakan kekerasan sekecil apapun. Alangkah bedanya dengan tindak kekerasan dan kebrutalan yang dibawa kaum “hooligans” negara lain.

***

            Budaya tifoso meriah, menyatu-saudarakan dalam nyanyi luap gembira, sampai-sampai membuat bus turis Jerman, Swiss,

Austria

yang lewat, berhenti dan penumpangnya terbengong-bengong. Mereka terpukau lalu membuat potret, sebuah ekspresi kerinduan akan kespontanan yang memang tidak ada di daerah Jerman “punclicht” (serba tepat dan disiplin baja) itu!

            Turis dari hotel seputaran di situ pun, ikut keluar lalu menikmati sebuah pesta kebudayaan kemenangan sepak bola Italia yang menyatu-saudarakan dalam sebuah paspor sama, yaitu sama-sama warga umat manusia yang sedang bersorak gempita, sedang berbahagia. Apa yang terjadi besok? Dalam radang emosi

massa

yang riang ini, terasa hidup bersama dihayati tuntas detik per detik, dalam kepasrahan—esok biarlah terjadi pada giliran esok.

            Dalam iklim yang semakin larut semakin menyatu-saudara ini, lalu terasa bahwa sang bulan purnama menjadi sebuah simbol Sang Cahaya, sang bulat kemenangan  menjadi pusatnya. Dan bila pusat kemenangan itu berupa bulatan bundar di lapangan, maka di Piazza Venezzia bulatan bola itu menyatu dalam bulatan bulan purnama.

            Ini pulakah ekspresi syukur, karena bulatan bola kini menemukan bulatan sejati yaitu Bulan Purnama. Dan memang di

sana

: dalam Sang Maha Bulan atau Sang Cahaya umat manusia, persaudaraan dalam kemenangan menemukan makna terdalamnya. Hanya saja bahasa religiositas zaman modern, masih mencari kata untuk diterjemahkannya.

            Kalau kita mengingat, gol kemenangan itu terjadi berkat terobosan 12 menit sebelum usai masuknya Toto Schilacci—pengganti Carnevalle yang tiga kali gagal memberi “eksekusi”—maka orang dibuat terpukau dan bertanya, “Bila begitu, betapa tinggi nilai sebuah terobosan dalam sepak bola!” Pun bila permainan masih tetap tampil bagus seperti Italia-Austria ini. Untunglah dibuat terobosan, sehingga terjadi gol! Ini komentar post factum (sesudah peristiwa alias kadaluwarsa).

            Apalagi bila pembuat gol ini ditilik latar belakang asalnya, yaitu daerah selatan Italia—Palermo di Sicilia—yang biasanya tidak dipandang tinggi. Namun, justru tilikan atau cara mencoba melihat seperti inilah yang membuat kita makin kagum, betapa dari sebuah sepak bola kita bisa bercermin mengenai hidup manusia. Siapa bisa merendahkan lagi daerah miskin

Palermo

, tempat asal Schillaci ini?

            Siapa yang masih mau mengingkari, bahwa kita kadang sungguh-sungguh butuh melakukan terobosan dalam hidup! Barangkali tidak usah membongkar seluruh sarang dan membuat sarang baru, seperti yang dikerjakan burung-burung manyar. Namun, alternatif dan terobosan baru akan mencairkan kemandekan, kemapanan atau “status quo” yang membuat hidup jadi lemas dan layu.

            Pada malam kemenangan Italia atas Austria ini, terbersitlah percikan-percikan renung seperti di atas, bersama dengan gencarnya lentikan kembang api dan nyanyi gembira yang makin lamat dan sayup menjelang subuh di Piazza Venezzia.

            Tanpa sadar teman di samping menyapa “buon giorno” yang mencetus “selamat pagi”, pengingat hari baru telah merekah lagi! Apakah pesta kemenangan akan bertambah seru, bila nanti Italia juara? Kita tunggu saja perkembangannya.

Artikel ini dibuat ketika Italia menang atas

Austria

1-0 pada babak penyisihan grup Piala Dunia Italia 1990.   

(Disadur dari buku "Bola-Bola Nasib" Karya Sindhunata")

   

Catatan Penulisan Populer (bagian 2)

July 12th, 2007 by dariarifuntukdunia

Kosong

Malam itu kosong. Jangkrik hanya sambil lalu bergerak, tanpa suara. Mereka nampaknya telah terserang penyakit manusia, malas. Bulan bergelayut di langit. Dengan pohon kelapa di bawahnya yang menopang kekuasaannya pada malam hari, ia beredar dalam kadarnya sendiri. Tanpa ia pernah merasa bahwa matahari lebih kuat di atas segalanya. Sinar matahari yang kuat, menyebarkan daya hidup ke penjuru bumi. Bulan pun mesti mengharapkan belas kasih matahari untuk hidup.  Meskipun ia juga sadar bahwa ia lebih diperhatikan karena segala  kelemahannya. Bulan sebagai sumber inspirasi setiap manusia bergenerasi. Tak pernah habis perlambang cinta dan kasih sayang. Selalu ikut serta ia dalam setiap perbincangan dua makhluk yang bercengkrama di bawah sinarnya yang lembut menggoda itu. Roman picisan.

Matanya tetap pada tempatnya. Pandangannya datar tanpa makna. Tidak. Banyak makna dalam kekosongan matanya itu. Malam yang kosong sepi itu tampak bebeda baginya. Di satu sisi keberadaaannya menegaskan kekosongan malam yang beku. Di sisi lain ia adalah sosok misterius yang menggoda untuk diselami. Kekosongan matanya, kaku sendi tubuhnya, ia tidak bergerak dari siang tadi. Hembusan angin tidak merobohkannya, guntur tak menyurutkannya, bahkan matahari tak kuasa menundukkan kekakuannya. Hanya bulan yang bersedia menaunginya dengan sinarnya. Ikut menemaninya semalam suntuk. Tanpa gangguan, tanpa paksaan.

Bagai seni instalasi, ia bergeming. Tetap menatap kosong ke arah rumah tua, yang kosong sejak lama. Ia tidak pernah terlihat sebelumnya. Hanya selentingan dan kabar burung yang pernah menghadirkannya ke tengah masyarakat. Hanya itu, cuma itu. Bukan hal yang penting. Hanya gosip tetangga, yang terakumulasi menjadi kebencian yang berkerak. Hati yang berkarat karena kata-kata yang bersifat korosif menimbulkan dampak yang berkepanjangan. Rokok bahkan kalah efektif dibanding kata-kata ironi yang mengejek. Lidah, ternyata punya daya bunuh yang menakjubkan.

”Ia pergi!”

Ribuan kali kata lirih itu terdengar. Ia tetap bergeming. Pagi yang menjelang menandakan rutinitas dua hari belakangan akan segera dimulai. Kata-kata umpatan, saling lirik, dan berbagai kegiatan kurang terpuji akan terjadi sepagi itu. Mereka tidak mengerti. Satu-satu orang lalu-lalang. Dengan menenteng tawa tipis mereka bergerak di sekitarnya. Ia bukan tidak merasakan keberadaan orang di sekitarnya, hanya saja, ia juga tidak bisa menyadari keberadaannya sendiri.

“Kemana?”

Pertanyaan singkat yang keluar hanya menambah sisi misteriusnya. Ia bukan bemaksud membingungkan, ia hanya sedang berjuang mengatasi kebingungannya.

“Kenapa?”

“Mereka kemana?”

“Apa ia juga pergi?”

Hanya kata-kata tak bertujuan yang keluar dari mulutnya. Tak terbayangkan perihal apa yang menggantungi otaknya. Seakan ia berada di dunianya sendiri. Semua tetap tak ambil pusing. Ia tetap berdiri di sana. Matanya tetap kosong seperti biasa. Pandangan datar yang tetap tidak bisa ditebak arahnya. Apakah ia benar-benar mengarahkan matanya ke rumah itu? Apakah ia malah sedang melihat sesuatu yang lain dari rumah itu? Mungkin, ia sedang mengarahkan pandangannya menembus kungkungan ruang tembok lusuh rumah yang kosong itu. Ia mungkin menerawang entah kemana mencari jawaban atas apa yang dipikirkannya. Tapi apakah ia benar-benar memikirkan hal yang berkaitan dengan rumah itu?

Ahh…, untuk sesaat ruang imaji dalam otakku ini tersedot ke dunianya, dunia imaji yang mega luas. Segala tindak tanduknya yang tidak melakukan apa-apa itu seakan mengajak setiap individu yang melihatnya untuk menerka-nerka; “Apa yang dilihatnya?”

***

Bukan hari yang spesial. Ia pulang dari kantornya dengan buah tangan di jinjing di tangan kanannya. Seperti biasa, anaknya menyambutnya di pintu rumah. Hanya rutinitas biasa.

“Papa pulang!!”

Antusiasme langsung terwujud sore itu. Anak tunggalnya, Bambang, berlari sekuat tenaga menghampirinya. Ia anak yang paling kuat di dunia. Baginya Bambang adalah inspirasi, Bambang selalu bisa membakar semangatnya, selalu dan selalu bisa menghapus ragu-ragunya. Hanya Bambang yang bisa.

Lahir dengan ketidaksempurnaan fisik, bisa ditebak, Bambang tidak punya modal yang kuat untuk melangsungkan hidupnya. Lahir prematur, tanpa sebelah kaki yang normal. Bisa dikatakan, Bambang adalah beban dalam hidupnya. Penolakan dalam hatinya timbul ketika melihat kondisi anak itu. Hatinya marah.

“Kenapa harus saya?!”

“Di dunia ini ada milyaran orang yang lebih jahat dari saya, kenapa saya?!”

Terbersit hasrat membuang anak itu di jembatan layang dekat pom bensin. Namun ada kekuatan di luar dirinya yang menolaknya. Di sudut hatinya yang paling dalam, ia menyayangi anak itu. Ia darah dagingnya.

“Anakku!”

Di mata anak itu, selalu terlihat tenaga yang besar. Tekad yang kuat untuk hidup. Tak perlu kata-kata untuk menggambarkannya. Bambang memang tak bisa bicara, lidahnya tidak cukup memadai untuk menghasilkan kata, bahkan bunyi sekalipun. Pita suaranya kaku, entah penyakit apa, yang pasti dokter sudah angkat tangan. Hal yang mengiris hati seorang ayah. Namun itu tidak menghalangi pengertian yang terjalin antara mereka. Ada satu yang menjembatani hubungan mereka. Hal yang bisa membuat mereka mengerti tanda-tanda percakapan dua arah yang mereka lakukan. Perasaan. Hanya itu yang dapat melakukannya.

Enam tahun sudah keadaan itu mereka terima dengan lapang dada. Keluarga kecil itu hidup bahagia dalam rumah mereka yang sederhana. Istrinya, Hanum, tidak hanya piawai mengurus rumah, ia juga konsultan yang ulung. Lulusan akademi manejemen perguruan tinggi swasta ternama di Jakarta ini sangat menikmati pekerjaannya sebagai ibu rumah tangga. Ia tidak pernah mengeluhkan segala pekerjaan yang harus dilakukannya di rumah, karena itu memang tugasnya.

Titel sarjana yang juga menghiasi namanya tidak lantas membuat ia tergesa mengejar karir. Rumah tangga tetap nomor satu. Ia sadar posisinya. Keluarga ini tanggungjawabnya juga. Ia selalu bisa menempatkan diri dalam setiap masalah yang menerpa suaminya. Dengan kebijakan akademis yang diperolehnya dari lembaga pendidikan tinggi, ia selalu bisa ikut memberi pertimbangan yang matang. Titel suma cumlaude itu bukan omong kosong.

Kehidupannya berjalan normal. Tetangga mereka juga orang yang baik pada dasarnya. Hanya memang sudah sifat dasar manusia, iri selalu meningkat jadi dengki. Iri mungkin tidak mengambil bagian yang signifikan untuk merubah sifat. Iri kuadratlah yang ternyata equivalen dengan dengki bisa sangat berbahaya dalam hidup bertetangga. Seperti sebuah keniscayaan, rumusan yang menghasilkan gosip itu ternyata cepat tersiar dengan cepat. Cepatnya gosip dapat mengungguli siaran cepat RRI. Lebih luas cakupannya dari TVRI. Dengan kandungan sugestif yang menjadi komposisi utamanya, gosip bisa sangat beracun.

Namun ternyata memang tidak mudah untuk menahan rasa iri pada keluarga ini. Sebagai kepala keluarga, Arman mampu menjaga kehormatan dan keharmonisan rumah tangganya. Mereka sekeluarga hidup serba cukup dan terlihat bahagia. Namun, pada akhirnya biar bagaimanapun juga keberadaan mereka yang berbahagia dalam segala keterbatasannya itu membuat iri beberapa tetangganya. Di balik segala kecukupannya, toh keluarga itu masih memiliki kekurangan: Bambang. Bambang yang kuat akhirnya menjadi sorotan. Selama ini tidak ada yang begitu, entah sejak kapan.

Mereka mengatakan Bambang adalah beban hidup. Ia cacat sejak lahir. Bambang dianggap sebagai sumber perpecahan. Merekapun pada akhirnya mengira-ngira, kapan keluarga ini akan pecah berantakan. Arman yang sering pulang malam juga menguatkan anggapan itu. Hanya Tuhan yang tahu kapan kesabaran keluarga itu habis.

Hanum yang biasanya kuat dan bijak, goyah juga. Apalagi ketika ia harus menjalani siklus bulanannya, ia bisa lepas kontrol.

“Biar aku labrak mereka!”

“Tidak usah, itu hanya akan menyusahkanmu, menyusahkan kita!”

“Tapi mereka keterlaluan!”

“Biarkanlah, toh kita tidak begitu”

Percakapan seperti itu jadi makin sering terjadi. Keluarga itu makin sering bertengkar. Setan berhasil merasuki jiwa-jiwa mereka yang kosong. Tidak lagi hati mereka dipenuhi rasa syukur. Gunjingan-gunjingan itu mulai menampakkan hasil.

“Jeng tau gak, tadi malam mereka bertengkar lagi lo.”

“Masak sih bu, kok sekarang jadi sering ya?”

Yah, namanya juga anaknya cacat begitu, saya juga gak akan tahan lo!”

Bukan berhenti, mereka malah makin menggila. Kata-kata yang tajam menusuk makin sering terlontar. Dan Hanum makin tidak tahan. Arman hanya berusaha menenangkan!

“Sudahlah, jangan kau pikirkan”   

“Kamu bisa bilang begitu, kamu jarang di rumah!”

“Aku kan harus mengurus pekerjaanku!”

“Alasan! Kau memang sengaja menghindar ’kan?! Kau sudah tidak mau melihat anak itu lagi lama-lama! Aku masih ingat bagaimana kau menolak keberadaannya dulu!”

Plaaak!

Tangannya tak kuasa lagi ia tahan, namun semuanya sudah terjadi. Arman hanya bisa menyesal, Hanum menangis. Mereka telah kehilangan apa yang selama ini mereka jaga. Tak ada lagi kerukunan itu. Tak ada lagi saling pengertian itu. Yang ada hanya amarah dan penyesalan.

Esoknya Arman berangkat kerja dengan hati gundah. Galau ia meninggalkan istrinya yang makin labil itu. Ia juga mencemaskan Bambang. Meskipun segala yang terjadi, seperti tak memberi dampak pada Bambang. Ia selalu terlihat bahagia. Ia tidak pernah kehilangan sinar kehidupan di matanya. Arman makin salut dan sayang padanya.

Sepulangnya ia, ia langsung mencari anak dan istrinya itu. Tapi ia tidak menemukan mereka. Aneh.

“Apa yang mereka lakukan? Kemana mereka?”

Bukan hal yang lumrah jika saat seperti ini mereka tidak di rumah. Ia berinisiatif mencari mereka ke segala penjuru komplek perumahan. Tetap ia tidak mendapati mereka. Hanya secarik kertas petunjuk yang ditinggalkan Hanum. “Hanum pergi, jangan dicari!” Hanya itu.Hal ini menjatuhkan mental Arman. Akhirnya ia juga pergi dari rumah itu.

Lama sudah. Tiga tahun ia pergi. Yang membuatnya kembali adalah fakta bahwa anak istrinya telah meninggal dalam sebuah kecelakaan lalu-lintas, tiga tahun yang lalu. Tepat setelah mereka pergi, bus yang mereka tumpangi hancur ditabrak truk lalu jatuh ke sungai dari ketinggian sepuluh meter. Fakta yang membuatnya tidak bisa tidur lagi. Ia hanya bisa menunggu datangnya hari untuk bisa meminta maaf pada keluarganya. Hari yang tak akan datang.

Dia tetap berdiri. Matanya datar, sendi tubuhnya kaku, bergeming diterpa segala cuaca dan keadaan. Kekosongannya misterius. Sedikit kata. Kekosongannya selalu menjadi tanda tanya. Dan semua orangpun masih melalukan hal yang sama. Tawa kecil yang merebak, tangis anak kecil yang takut, suara-suara tak peduli. Hanya menjadikan harinya yang kosong tetap tak berisi. Kekosongan jiwanya yang diselimuti kerumitan pikirannya, tak bisa diganggu-gugat lagi. Ia hanya bisa menunggu.

Kosong.

Hampa.

Catatan Penulisan Populer (bagian 1)

July 11th, 2007 by dariarifuntukdunia

Siang Itu, Dingin Sekali

            Dingin. Sebuah pengalaman yang biasa dalam hidup. Kehidupan dipenuhi rasa kesusahan, kesenangan, kemudahan, kesukaran, kegalauan, kebimbangan, kemunduran, kemajuan, dan dari semua perasaan itu, kepanasan dan kedinginan juga. Berbagai perasaan tersebut membaur jadi satu. Mewarnai tiap sisi kehidupan. Kehidupan yang tidak pernah bosan. Yang selalu mengajak kita bertualang melihat macam-macam permasalahan. Kehidupan pula yang mengalirkan kita menuju pemecahan dari berbagai masalah itu.

            Kenapa hari ini terasa dingin sekali? Padahal waktu menunjukkan pukul 11.30. Bagi kebanyakan ibu rumah tangga, sekarang adalah waktu yang ideal untuk menjemur pakaian. Sebuah ritual ibu-ibu rumah tangga, ketika mereka yakin dan percaya bahwa hujan tidak akan turun. Namun hari ini berbeda. Matahari belum berani menunjukkan keperkasaannya sejak pagi. Dia yang biasa terlihat jumawa mengangkangi angkasa, sekarang belum terlihat lagi. Bagai hilang nyali menghadapi pagi. Mendung yang terlihat menaungi bumi, belum menunjukkan tanda akan pergi. Sepertinya ia tak akan melepaskan bumi begitu saja dari cengkraman kegelapannya.

            “Bukan, ini pasti bukan hari Rabu!”.

            “Bagaimana bukan, besok kan Kamis, berarti sekarang ya Rabu.”

            “Kamu tidak mengerti?! Ini hari Rabu!!”

Percakapan yang biasa terjadi. Dan pagi ini terjadi lagi. Memang sudah bukan kebetulan jika tugas mengejar deadline paling melelahkan.

            Pagi itu tak seperti biasanya. Keterlambatan tubuhku menyesuaikan diri dengan waktu mulai membuatku kesal. Ini sudah kesekian kalinya aku terlambat bangun, bukan sebuah kesengajaan memang, namun bos pastilah bergeming mendengar berbagai alasan yang kukemukakan. Mungkin karena cuaca yang melenakan. Cuaca ini membuat sensor-sensor syaraf di tubuhku ini tak bisa mengendalikan dirinya untuk menyalurkan rangsangan ke otakku sehingga dapat membuatku terbangun. Ah, menyalahkan alam, ya, alam! Hal konyol yang biasa dilakukan pecundang. Yang tidak berani mengakui kesalahan, dan tidak tega melemparkan kesalahan pada orang lain. Sungguh seorang pecundang double impact.

            Pagi ini tetap tidak seperti biasa. Siangnya juga sama. Kenapa hari ini bus seperti susah ditemui? Padahal sehari-harinya banyak bus yang berseliweran menantang penumpang. Makalah presentasi di tangan telah mendapat teman baru, debu-debu jalanan. Intim sekali mereka, sehingga susah untuk dipisahkan. Melekat kuat dan makin erat dari waktu ke waktu.

Perdebatan pagi tadi dengan teman satu kontrakan menempatkan mentalku pada posisi yang buruk. Makin buruk jika memikirkan sambutan panas bosku. Sambutan yang merupakan akumulasi kekesalan dan kegembiraan yang tidak seimbang, namun dengan ujung yang sama. Kesal ia karena menunggu, gembira karena merasa akan melakukan penghematan pengeluaran. Dengan mengurangi jumlah tenaga kerja, dipercaya akan menambah efektif kinerja perusahaan dan menjaga stabilitas suasana kerja di ruangannya. Egois!

Kerja seperti ini masih lebih baik daripada terlunta-lunta di jalan. Baru sebulan ini aku bekerja pada bagian marketing. Di luar dugaan memang. Sebulan yang lalu aku masih menyapu di bagian kantin perusahaan. Terkadang aku dipindah ke bagian lain yang kadang lebih baik, kadang lebih buruk. Tergantung bagaimana menyikapi keadaan ‘ruang kerja’ tersebut.

Perubahan datang ketika pada suatu hari bosku sekonyong-konyong bertanya mengenai strategi penjualan. Kenapa juga ia harus bertanya padaku yang tukang sapu ini? Bingung sekaligus panik bersamaan memukul-mukul otakku untuk segera berpikir cepat. Untunglah aku telah dilatih oleh seorang guru ‘besar’. Dengan kebesaran badannya ia selalu menakuti semua mahasiswanya. Dengan kebesaran mulutnya ia selalu terlihat akan memakan mahasiswanya ketika ia bicara. Mulutnya yang besar ternyata menyimpan kecepatan yang luar biasa pula. Pertanyaan yang diajukannya selalu cepat dan banyak. Setiap mahasiswa yang menjawab salah lebih dari 50 % harus mengikuti ujian tertulis di hari berikutnya. Aku selalu selamat. Dengan jawaban benar rata-rata 59,5 % sudah cukup menyelamatkanku dari neraka tes tertulis mata kuliah manejemen.

Dengan cekatan aku menjawab pertanyaan bosku itu. Bosku terlihat kagum. Aku masih terlihat panik. Sekarang, aku tetap terlihat panik karena angkutan umum tak kunjung tiba. Pukul 11.55. Detik waktu terdengar seperti suara sangkakala. Kiamat bagiku, habis karirku. “Tuhan! ini tidak adil Tuhan! Baru sebulan!” Terlihat pengamen yang biasa melintas di seberang jalan. Aneh! Baru kali ini aku memperhatikan pengamen tersebut. Ya! Memang baru kali ini! Perasaan aneh yang merasuk kala melihat raut wajah tirus yang dekil itu. Dengan pakaian yang sobek di beberapa bagian, memperlihatkan betapa tangguhnya orang ini menjalani hidup.

Masih saja kuperhatikan sosoknya yang tampak istimewa hari ini. Tiba-tiba matanya seperti teralih oleh sesuatu, sesuatu yang menuntun matanya melihat mataku. Dengan raut tersinggung ia bergegas datang menghampiri, menyeberang jalan dengan kasar. Dalam hitungan detik ia sudah ada dihadapanku. Melayang tangannya menjambak kerah kemeja pinjaman yang kupakai. Rupanya ia tersinggung dengan caraku menatapnya.

“Apa lu liat-liat?! Nggak senang lu?!”

“Sori, apa salah gua?”

“Lu songong ngeliatin gua! Jagoan lu?! Anak mana lu? Ngaku!”

“Hei, jangan belagu lu! Gua tau lu anak sini! Lu kira gua takut!

“Lu berani ribut ama gua?!”

Pertanyaan retoris terakhir itu menjadi penutup percakapan “mesra” antara kedua belah pihak, sekaligus menjadi pembuka perkelahian brutal yang hanya pernah kulakukan waktu SMA dulu. Pekelahian itu sendiri berlangsung cepat. Tak kupikirkan lagi bosku yang menunggu di kantor. Tak terbersit pula hasrat untuk berhenti ketika teringat bahwa kemeja ini merupakan hasil pinjaman. Tak ada rasa malu dan sungkan setelah aku terlebih dahulu menerima pukulan telak di wajah. Semua baru usai ketika polantas yang bertugas tak jauh dari situ menengahi perkelahian kami. Sangat disayangkan. Padahal aku telah berhasil memukulnya jatuh untuk ketiga kalinya. Bisa dibilang aku hampir menang T.K.O. Kami di bawa menuju pos polisi yang letaknya tak jauh dari sana.

Di pos polisi aku baru tahu bahwa pengamen ini bernama Arman. Aku tahu dari percakapannya dengan polisi di sana. Ternyata ia memang kerap bikin ulah, sudah rutinitas, mungkin kegemaran, bisa dibilang itu adalah hobinya. Disambar petir saat itu juga perasaanku. Pantas saja dia terlihat begitu istimewa. Muka tirusnya tidak bisa menutupi sisa-sisa kemakmurannya. Lekuk-lekuk kejayaannya sebagai anak seorang yang paling kaya di daerahku, Sragen, masih terlihat. Itu memang dia, Arman Zailani, sahabat karib sekaligus musuh bebuyutan semasa  di SMA. Pantas saja selama pertarungan tadi aku merasa seperti pernah merasakan model serangannya. Ia memang selalu kalah dalam berduel satu lawan satu dengan ku. Kita selalu bertarung setiap hari Rabu sepulang sekolah. Di sawah dekat sungai, adalah arena kelas dunia bagi kami. Tempat menentukan siapa jawara diantara kami berdua. Kenapa juga ia baru kali ini ku lihat? Aku sudah ada di sini sejak satu bulan yang lalu! Sungguh pertemuan yang aneh, pertarungan di waktu yang aneh, hanya menambah aneh sebuah hari dengan pagi yang aneh.

“Arman?! Arman Zailani?! Anak Haji Martopo?”

“Lu tau nama gua dari mana? Pake tau nama bapak gua juga lagi!”

“Lu dari Sragen kan?”

“Iya, kenapa? Masih nggak senang?”

“Bukan, bukan itu, gua Bambang! Bambang Sangaji! Anak pak Sarjadi.”

“Pak Sarjadi? Bambang? Kayak pernah denger.”

“Oh, buset! Lu Bambang?! Bener-bener Bambang?!”

“Iya! Gua Bambang!”

Logat betawi telah mengakar di lidah kami. Selama enam tahun kuliah, aku memang telah tinggal di Jakarta, entah dengan dia. Mungkin ia juga sama, telah menetap lama di sini. Tak disangka itu dapat mengubah logatku begitu juga dia, walau terkadang masih tercetus beberapa kata dalam bahasa Jawa. Arman sendiri merupakan anak dari pasangan Haji Martopo dan Siti Nurlela. Darah Betawi dari ibunya yang membuat logat Betawinya terasa sangat kental.

            Arman mulai bercerita tentang masa-masa suramnya. Setelah lulus SMA, ia melanjutkan kuliah di Surabaya. Ia tidak mengikutiku kuliah di Jakarta. Harga dirinya terlalu tinggi untuk menjadi pengekor. Baru satu tahun kuliah di Surabaya, ia mendapat kabar bahwa ayahnya sakit keras. Ternyata ayahnya sakit karena usaha penggilingan padinya bangkrut. Hutang menumpuk, semua dijual. Mereka benar-benar jatuh miskin. Demi meringankan beban orangtuanya, Arman nekat pergi ke Jakarta, mencari pekerjaan. Memang, seperti apapun semrautnya kehidupan di kota ini, mimpi mencapai kemakmuran tetap terngiang dalam setiap benak perantau.

            Setelah meninggalkan kedua orang tuanya beserta saudara-saudaranya. Arman memulai perjalanannya ke Jakarta. Dengan kereta ia beranjak meninggalkan keluarganya, meninggalkan mimpi-mimpinya yang lama, demi mengejar tujuan yang baru, hidup makmur di kota. Dengan hidup makmur di kota ia berharap dapat menyelesaikan masalah keluarganya, menyibak awan kelabu yang meliputi kehidupan keluarganya secara mendadak. 

            Tak dinyana  Ibukota tidak menyambut Arman dengan senang hati. Impiannya luntur lantaran tasnya sudah hilang ketika ia sampai di Stasiun Gambir. Sebagai pendatang, ia merasa bingung dengan sambutan khas kota besar ini. “Tega sekali orang itu, apa ia tidak tahu aku baru datang?” Ia membatin. Monas tampak gagah berdiri. Kedigdayaannya menyebar kepelosok jagat Indonesia. Namun tetap, ia tidak dapat menolong Arman dari keterpurukan. Arman hanya menatap kosong pada monumen itu. Ia hanya bisa berkhayal seandainya emas di ujung tugu ini dapat ia bawa ke kampungnya. Impian kosong seorang yang nyaris putus asa. Itu lebih baik daripada ia berpikir untuk  bunuh diri loncat dari ujung tugu itu. Memang pada saat seperti ini, hanya pikiran konyol dan nekatlah yang akan tersirat di benak. Entah itu secara bersamaan atau bergantian. Memenuhi ruang pikiran yang kalut dan patah semangat. Menyedihkan. Sungguh ironis.

            Kepedihan tidak berhenti begitu saja bagi Arman. Setelah tiga hari tidak menyentuh nasi. Ia sempat pingsan di kolong jembatan di daerah Cempaka Putih. Di situlah ia bertemu dengan Parnawi. Parnawi merupakan anak buah Karman, preman penguasa daerah itu. Segala kejahatan yang dilakukan anak jalanan bermuara pada orang ini. Parnawi yang iba membawa Arman pada Karman. Sebuah perasaan iba yang menyelamatkan di satu sisi, namun menjerumuskan di sisi yang lainnya. Karman mengijinkan Arman ngamen di daerah itu. Kesamaan fonetis yang terdapat dalam nama mereka tidak otomatis menjadikan Arman sebagai anak emas Karman. Mulailah ia menjadi pengamen di daerah ini.

Hari ke hari dilaluinya dengan susah payah. Tak sempat lagi ia memikirkan keadaan keluarganya. Semua itu telah hilang seiring waktu. Yang ada di benaknya hanya bagaimana cara bertahan hidup; Jangan sampai kalah dalam bersaing. Pengaruh buruk jalanan telah merasuk dan bercampur dengan darah dan dagingnya. Keringatnya tak lagi menggambarkan kegigihannya dalam menjaga nama keluarganya, hanya perlambang dari kerasnya hidup di kota.

Tak jarang uang hasil mengamennya dihabiskan untuk foya-foya dengan teman-teman seperjuangannya. Ia juga terkadang ikut melakukan beberapa tindak kriminal. Kadang ia ikut urun rembug dalam komplotan penjambret dompet masyarakat, yang sial dan tidak kalah menderitanya dengan mereka. Mereka memang terkadang menjambret barang milik masyarakat yang sedang mengalami tekanan batin, bahkan lebih berat dari yang mereka alami. Ketika orang itu bunuh diri, pada hakikatnya mereka telah turut bertanggungjawab atas tindakan nekat warga negara yang putus asa itu. 

Ia sering ditahan karena berkelahi memperebutkan daerah kekuasaan. Ruang tahanan yang dianggap kandang monyet bagi sebagian orang, menjadi penginapan yang rutin ia singgahi. Lapak hidup dijalanan harus dipertahankan dengan sedemikian rupa. Kehilangan daerah merupakan awal dari kehancuran hidup di jalanan.   

Mendengar ceritanya dengan seksama, membuat suasana pos polisi terasa berat. Ruang sempit 3 X 4 meter menambah sesak tekanan udara di sini. Tekanan hidup yang dilewati sobat karibku ini mengecilkan bobot segala permasalahan yang ku alami seharian. “Aku masih beruntung”. Dan ia masih terus bercerita. Pemeriksaan polisi terlihat bagai percakapan akrab dua orang yang sering bertemu. Pikiranku bertabrakan dengan atap pos yang landai. “Pos ini kenapa harus ada di sini? Apakah ini juga bagian dari aliran kehidupannya? Apa begitu juga aku?”

Awan mendung masih menggelayut di langit, tapi tidak hujan juga. Mega-mega itu seakan turut mendengarkan kisah tragis anak muda yang mencoba bertahan hidup ini. Layaknya awan yang mencoba mempertahankan kelangsungan hidupnya, dengan mengambil sari pati air. Begitu juga Arman. Bertahan mengalir bersama kehidupan. Mencari pemecahan semua masalahnya. Ya! Siang itu, dingin sekali.   

                    .                

Tuhan 9 Senti

July 11th, 2007 by dariarifuntukdunia

Teman, mungkin udah banyak yang tahu hal ini. Sekedar mengingatkan bahaya berhala yang satu ini. Buah pikiran dari Taufik Ismail ini layaknya menjadi bahan pikiran kita dalam bertindak dan menyikapi masalah yang mendunia berikut.




tuhan Sembilan Senti


Oleh Taufiq Ismail





 


Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok, tapi tempat siksa


tak tertahankan bagi orang yang tak merokok,





Di sawah petani merokok, di pabrik pekerja merokok, di kantor pegawai


merokok, di kabinet menteri merokok, di reses parlemen anggota DPR


merokok, di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok, hansip-bintara-perwira


nongkrong merokok, di perkebunan pemetik buah kopi merokok, di perahu


nelayan penjaring ikan merokok, di pabrik petasan pemilik modalnya


merokok, di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok,





Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na'im sangat ramah bagi


perokok, tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,





Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok, di ruang kepala


sekolah ada guru merokok, di kampus mahasiswa merokok, di ruang kuliah


dosen merokok, di rapat POMG orang tua murid merokok, di perpustakaan


kecamatan ada siswa bertanya apakah ada buku tuntunan cara merokok,





Di angkot Kijang penumpang merokok, di bis kota sumpek yang berdiri


yang duduk orang bertanding merokok, di loket penjualan karcis orang


merokok, di kereta api penuh sesak orang festival merokok, di kapal


penyeberangan antar pulau penumpang merokok, di andong Yogya kusirnya merokok,


sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok,





Negeri kita ini sungguh nirwana kayangan para dewa-dewa bagi perokok,


tapi tempat cobaan sangat berat bagi orang yang tak merokok,





Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai


kita,





Di pasar orang merokok, di warung Tegal pengunjung merokok, di restoran


di toko buku orang merokok, di kafe di diskotik para pengunjung


merokok,





Bercakap-cakap kita jarak setengah meter tak tertahankan abab rokok,


bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun menderita di kamar tidur


ketika melayani para suami yang bau mulut dan hidungnya mirip asbak rokok,





Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul saling


menularkan HIV-AIDS sesamanya, tapi kita tidak ketularan penyakitnya. Duduk


kita disebelah orang yang dengan cueknya mengepulkan asap rokok di


kantor atau di stopan bus, kita ketularan penyakitnya. Nikotin lebih jahat


penularannya ketimbang HIV-AIDS,





Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur di


dunia, dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau


itu, bisa ketularan kena,





Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok, di apotik yang antri obat


merokok, di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok, di ruang tunggu


dokter pasien merokok, dan ada juga dokter-dokter merokok,





Istirahat main tenis orang merokok, di pinggir lapangan voli orang


merokok, menyandang raket badminton orang merokok, pemain bola PSSI


sembunyi-sembunyi merokok, panitia pertandingan balap mobil, pertandingan


bulutangkis, turnamen sepakbola mengemis-ngemis mencium kaki sponsor


perusahaan rokok,





Di kamar kecil 12 meter kubik, sambil 'ek-'ek orang goblok merokok, di


dalam lift gedung 15 tingkat dengan tak acuh orang goblok merokok, di


ruang sidang ber-AC penuh, dengan cueknya, pakai dasi, orang-orang


goblok merokok,





Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na'im sangat ramah bagi orang


perokok, tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak


merokok,





Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai


kita,





Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh, duduk sejumlah ulama terhormat


merujuk kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa. Mereka ulama ahli


hisap. Haasaba, yuhaasibu, hisaaban. Bukan ahli hisab ilmu falak, tapi


ahli hisap rokok. Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka


terselip berhala-berhala kecil, sembilan senti panjangnya, putih warnanya, ke


mana-mana dibawa dengan setia, satu kantong dengan kalung tasbih 99


butirnya,





Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang, tampak kebanyakan


mereka memegang rokok dengan tangan kanan, cuma sedikit yang memegang dengan


tangan kiri. Inikah gerangan pertanda yang terbanyak kelompok ashabul


yamiin dan yang sedikit golongan ashabus syimaal?





Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu. Mamnu'ut


tadkhiin, ya ustadz. Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz. Kyai, ini ruangan


ber-AC penuh. Haadzihi al ghurfati malii'atun bi mukayyafi al hawwa'i.


Kalau tak tahan, di luar itu sajalah merokok. Laa taqtuluu anfusakum.





Min fadhlik, ya ustadz. 25 penyakit ada dalam khamr. Khamr diharamkan.


15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi). Daging khinzir diharamkan.


4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok. Patutnya rokok


diapakan?





Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz. Wa yuharrimu 'alayhimul


khabaaith. Mohon ini direnungkan tenang-tenang, karena pada zaman Rasulullah


dahulu, sudah ada alkohol, sudah ada babi, tapi belum ada rokok.





Jadi ini PR untuk para ulama. Tapi jangan karena ustadz ketagihan


rokok, lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan, jangan,





Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini. Banyak


yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi itu,


yaitu ujung rokok mereka. Kini mereka berfikir. Biarkan mereka berfikir.


Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap, dan ada yang mulai


terbatuk-batuk,





Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini, sejak tadi pagi sudah 120


orang di Indonesia mati karena penyakit rokok. Korban penyakit rokok


lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas, lebih gawat


ketimbang bencana banjir, gempa bumi dan longsor, cuma setingkat di bawah


korban narkoba,





Pada saat sajak ini dibacakan, berhala-berhala kecil itu sangat


berkuasa di negara kita, jutaan jumlahnya, bersembunyi di dalam kantong baju


dan celana, dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna, diiklankan


dengan indah dan cerdasnya,





Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri, tidak perlu ruku' dan


sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini, karena orang akan khusyuk


dan fana dalam nikmat lewat upacara menyalakan api dan sesajen asap


tuhan-tuhan ini,





Rabbana, beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini.